Langsung ke konten utama

Berjuang tak nunggu sukses, pak!





Pelajar adalah bagian orang muda yang punya gairah berlebih. Gairah untuk mencari jati diri, berkembang, dan, selalu belajar. Gairah untuk belajar itulah yang bisa membentuk karakter orang muda yang kritis.


Dengan belajar, semakin banyak kami tahu akan kebodohan yang diciptakan otoritas. Dengan belajar, terbukalah mata kami akan pembiaran kekuasaan terhadap perut-perut yang lapar. Dengan belajar, terasahlah semangat juang kami melihat dunia tidak seperti yang diajarkan di bangku-bangku kelas.


Pelajar menumbuhkan kesadaran kritisnya melihat keadaan sosial. Pelajar menemukan keberpihakannya dan tahu harus kembali pada akhirnya. Di usia yang semuda itu, gairahnya secara biologis menuntunnya untuk melawan! Dia takkan mau membohongi keadaan alamiahnya untuk berbaur, belajar dan berjuang bersama rakyat. Sejarah dunia tidak bisa berbohong, bahwa kaum pelajar adalah bagian perlawanan dan perubahan dunia. 


Tetapi, tak semudah itu menumbuhkan kesadarannya. Pelajar berusaha lepas terhadap pendidikan otoritas yang menuntunnya kepada candu. Pendidikan yang tak mengenal si murid bisa lebih pintar dibanding si pengajar. Pendidikan yang berisikan "si maha benar" itu memaksamu untuk mengangguk pada ajarannya. Tak ada kesempatan untuk membebaskan diri!


Yap, memang tidak semua dalam pendidikan adalah "si maha benar". Ada juga "sang pengajar kritis" yang mau menciptakan ruang kritis bagi muridnya. Tetapi, semua kan terkikis bila otoritas menghanyutkannya. Tak ada ruang bila pelajar tidak mengusahakannya.


Pelajar kan digiring untuk mencapai targetan kekuasaan, semua pelajar harus punya cita-cita sukses. Suksesnya seperti apa? Semuanya absurd sampai tolak ukurnya menjadi mempunyai banyak uang! Bagaimana semuanya bisa banyak uang? Tak terjawab, yang penting ciptakanlah cita-cita yang membawamu akan kesuksesan!


Sungguh menggelikan? Iya, itulah jawaban pelajar. Ketika perjuangan pelajar dianggap mengganggu otoritas maka tak ada langkah lain selain membentuk paradigma! Yah seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, semuanya digiring untuk mencapai kesuksesan. Tak peduli seberapa paham kalian akan keadaan sosial, tak peduli seberapa kritis daya nalar kalian, tak peduli seberapa jitu strategi yang dibuat, semuanya kembali..."sukseslah dahulu maka kau bebas untuk berjuang!"


Tak jauh beda dengan keluarga pun mendorong hal yang sama. Bahkan lebih tajam, "tak perlu sok-sok berjuang kalau belum bisa buat bahagia keluarga. Tutup omong kosong ini dan sukseslah!" Yah begitulah realita yang ada, hambatan dan ancaman terhadap daya melawan kita akan terus diuji. 


Ingat, pelajarkan menemukan jalannya untuk berjuang. Semangat bergeloranya memupuk daya analisa dan berjuangnya! Nalar memberontak adalah karunia abadi yang mengharuskan pelajar turut serta dalam perubahan dunia. Mengingat kata-kata Datuk Tan Malaka, "Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan massa rakyat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana maka lebih baik pendidikan itu tidak di berikan sama sekali."


Yang mungkin bisa kita katakan, "berjuang tak nunggu sukses, Pak" 


-Stuppa-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Pengalaman Mengajarkan Kalau Kita Tidak Pernah Belajar"

Manusia hidup dalam satu garis lurus kehidupan. Garis itu tidak pernah benar-benar lurus sampai kita menemukan rute yang kita inginkan. Entah itu bernasib mujur ataupun sangat menyakitkan, tugas kita hanya memilih yang paling memungkinkan untuk menang. Malangnya manusia yang belum menemukan mesin waktu. Tidak bisa membaca masa depan, sehingga hanya bisa berspekulasi akan peluang keberhasilan pilihan. Begitupun tidak bisa mundur ke masa lalu, karena hanya membuang waktu merubah yang terlanjur sudah tergariskan. Dalam suatu masa, seorang kawan absurdku pernah dengan percaya diri menggunakan ilmunya membaca garis tangan. Dari sejuta harap akan masa depan yang baik, nyatanya tidak benar-benar membantu kita mengambil keputusan yang benar. Hanya bunyi peringatan supaya jangan menjadi keledai yang jatuh terus ke lubang yang sama. Kata orang bijak, pengalaman adalah guru yang paling terbaik di kehidupan. Nyatanya, guru terbaik itu hanya memberikan satu jawaban mutlak. "Manusia itu terlanj...

Media hiburan eksploitasi kemiskinan

Hari-hari kita selama dan pasca bulan ramadhan beberapa tahun lalu diselingi dengan banyaknya acara hiburan di layar kaca. Acara hiburan yang diproduksi layaknya barang pada pabrik itu sukses mengalihkan waktu kita untuk berdiam diri menikmati suguhan tersebut. Melihat media hari ini, kita harusnya menyadari satu hal. Adanya trend genre acara hiburan yang menurutku sudah berkembang lama dalam industri ini, yaitu mengeksploitasi kemiskinan. Bukan, ini bukan berbicara eksploitasi pekerja dalam relasi produksi pada media tersebut. Tetapi, ini berbicara acara hiburan di media kita yang mengumbar kemiskinan rakyat sebagai strategi menarik minat penonton layarkaca untuk menonton acara tersebut. Acara hiburan yang menampilkan "rakyat miskin" layaknya objek tontonan masyarakat. Diumbar kehidupannya, dari kesusahan hidup sampai aib keluarga. Siapa yang memiliki kesusahan dan aib "terbaik" akan terus diekspos sampai membuat malu mereka.  Kemudian mereka dipaksa mengikuti ...

Malam natal, pesimisme, dan perjuangan kelas

Shalom  Salam pembebasan nasional! “Akan tiba masanya kita sebagai manusia. Sebagai orang yang mengaku beragama, hanya akan bisa merasa “bahagia” apabila kita mampu seperti Kristus, menjadi miskin bersama orang miskin!” - Amir Syarifudin Harahap - Selamat natal kuucapkan kepada seluruh alam semesta yang mempercayai tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Selamat natal juga kuucapkan kepada siapapun yang menyakini tiap-tiap hari adalah kedatangannya di dunia. Selamat natal kuucapkan kepada seluruh umat Kristiani yang setiap harinya sabar menunggu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Selamat natal kuucapkan kepada kelas buruh dan rakyat tertindas sedunia yang merayakan hari kebesaran ini.  Tulisan ini adalah penandaku sebagai umat yang sudah mencapai titik kegelisahan melihat kondisi hari ini. Kondisi yang kuanggap kurang lebih 2000 tahun berlalu sejak kelahiran-Nya, dunia belum menunjukkan perubahan signifikan seperti makna pengorbanan di kayu salib itu....